Menu Buka Puasa yang Praktis Ala Imario Premio

Menu Buka Puasa yang Praktis Ala Imario Premio

imario premio, salad buah premium, sambal baby cumi



Holla Gengs,

Gimana puasa hari pertama? Apa sudah membayangkan menu buka puasa yang asik nih?

Hmm, kalau bicara soal menu buka puasa, rasanya tiap orang punya referensi masing-masing. Beberapa orang menyukai sajian buka puasa yang bercita rasa manis, ada juga sebagian orang yang berbuka puasa dengan makanan yang pedas.

Eit, jangan khawatir. Saya mau memberikan menu buka puasa yang praktis Ala Imario Premio. Dijamin akan membuat aktifitas buka puasamu jadi makin semarak. Ada menu pembuka yang manis dan teman makan nasi yang bercita rasa pedas.

Hayo, pada penasaran, kan?


Sekilas Tentang Imario Premio



produk imario premio, salad buah premium, sambal baby cumi
Produk Imario Premio


Imario Premio merupakan sebuah brand UMKM dari Sidoarjo, milik Huzaimah atau lebih dikenal sebagai Ima. Dia memulai usahanya sejak 11 November 2011. Menurut Mbak Ima, Dia ingin menantang dirinya sendiri dengan terjun di dunia kuliner. Maklum, saat masih gadis, mana tahu perbedaan bumbu dapur. Jadi, sekarang kayak ajang pembuktian sama dirinya sendiri, bahwa Ima yang cupu soal bumbu dapur ternyata bisa masak.

Pertama kali jualan dimulai saat Mbak Ima masih tinggal di Kupang (NTT). Jauh dari rumah dan keluarga kerap kali membuatnya merasa bosan, apalagi saat itu belum punya teman dekat. Akhirnya nekat dengan mencoba peruntungan menjual Salad Buah dan Puding Casablanca. Siapa sangka respon yang diterimanya cukup bagus. Jualan pertama langsung ludes terjual. Hal ini membuat wanita pemilik Imario Premio ini takjub atas pencapaian dirinya, bahwa ternyata dia bisa membuat dessert yang diminati banyak orang.

Akhirnya rasa semangat itu terus berkobar hingga saat ini. Mbak Ima melebarkan sayap dengan mengeluarkan menu Sambal Baby Cumi.


Baca Juga:


Rekomendasi Menu Buka Puasa yang Praktis Ala Imario Premio


Salad Buah Premium



salad buah premium, imario premio, produk umkm sidoarjo
Salad Buah Premium


Siapa yang suka berbuka puasa dengan buah?

Salad buah bisa menjadi salah satu alternatif menu buka puasa. Salad buah dari Imario Premio ini termasuk kategori premium. Salad dengan komposisi buah yang full baik itu topping dan isinya. Ada buah apel, melon, anggur dan nata de coco yang diracik bersama saus mayo olahan sendiri yang tetap mengedepankan rasa manis buah asli. Ditutup dengan taburan keju parut yang melimpah.

Salad Imario Premio ini mengedepankan kualitas, buah yang dipilih segar dan berkualitas. Meski menginap semalam di lemari es, salad tidak mudah berair dan rasa buahnya tetap renyah dan segar.

Terdiri dari dua kemasan yaitu 400 ml (55k) dan 1000 ml (75k). Dikemas dalam mangkok plastik yang tebal dan di bagian luar dibungkus dengan plastik wrapping. Untuk mencegah salad tumpah dalam perjalanan. Labelnya juga cantik, dengan sentuhan warna emas. Lengkap dengan kontak pemesanan.


Sambal Baby Cumi


Sambal baby cumi imario premio, sambal baby cumi, umkm sidoarjo
Sambal Baby Cumi


Sambal baby cumi kayaknya belakangan ini menjadi trending topik di dunia persambalan. Mbak Ima pun mencoba untuk meracik sambal Baby Cumi yang khas.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari Sambal Baby Cumi Imario Premio ini adalah kemasannya yang beda dari sambal yang beredar di luar sana. Biasanya kan hanya memakai tutup botol plastik dengan tutup putar atau botol kaca.

Imario Premio mengemas sambal layaknya kemasan makanan siap saji yang sering dijumpai di supermarket. Memakai botol kaca kemasan 250 gram berbentuk jar yang kemudian disegel menggunakan tutup kaleng layaknya kemasan kental manis. Nggak bakal isi sambal meluber kemana-mana mesti ditaruh dalam tas. Praktis ya.

Memiliki 2 varian rasa yang yaitu sedang dan pedas. Cita rasa pedas, asin, gurih yang berpadu jadi satu dengan aneka rempah menghasilkan rasa yang khas. Sambalnya tidak banyak minyak. Baby cuminya terasa segar saat dikunyah dan tidak alot. Nggak kaleng-kaleng deh kualitas bahannya. Sambal baby cumi bisa jadi lauk pendamping atau bahkan dimakan sama nasi putih saja terasa enak. Ukuran 250 gr dibanderol dengan harga Rp. 55.000.

Nah, bagaimana rekomendasi menu buka puasa yang praktis dari Imario Premio, menarik bukan?

Kalau kamu penasaran bisa coba kepoin akun IG: @imario.premio atau hubungi 08179677796 untuk pemesanan.

Selamat mencoba,
Teman Makan Nasi yang Praktis

Teman Makan Nasi yang Praktis

sambal goreng kering dapur mbak djoemi, sambal goreng kering


Teman Makan Nasi yang Praktis



Sehabis operasi, saya pernah mengalami yang namanya malas makan. Selera makan mendadak menghilang sehingga membuat malas menyentuh nasi. Padahal ada banyak obat yang harus diminum supaya jahitan lekas kering dan bagus. Mau tidak mau, terpaksa harus makan dengan teratur.

Beruntungnya tinggal di Indonesia, ada beragam makanan olahan yang bisa jadi teman makan nasi ketika kamu kehilangan mood seperti yang saya alami. Kala itu saya lagi bosan dengan makanan berkuah, penginnya yang kering-kering, seperti Sambal Goreng Kering.

Sambal goreng kering itu merupakan sambal yang digoreng dan ditambahkan bahan digoreng kering, biasanya kentang, tempe, kacang atau teri. Kalau di Madura sambal goreng kering biasanya ditambahkan daging semacam empal suwir yang digoreng.

Di Surabaya, kebanyakan sambal goreng kering yang saya jumpai biasanya berupa kentang, tempe, teri, kacang atau campuran keempat bahan. Dijadikan lauk pendamping atau lauk utama, rasanya tetap nikmat apalagi sama nasi yang panas dan punel. Lupa diri.


Sambal Goreng Kering Dapur Mbak Djoemi


Berawal dari bisnis katering makanan, berupa nasi kotak sejak tahun 2018. Tentu saja sambal goreng kering merupakan menu pendamping yang rasanya selalu ada. Rasa sambal goreng kering dapur Mbak Djoemi ini sering ditanya sama pelanggan, sehingga beliau mulai berani menjual sambal goreng kering buatannya dalam kemasan tersendiri. Modal awal berupa enam ratus ribu, kini berkembang. Dulu, bisnis nasi kotak hanya dikerjakan sendiri, sekarang alhamdulillah sudah memiliki 1 asisten.


Kemasan Sambal Goreng Kering Dapur Mbak Djoemi



kering kentang, sambal goreng kering kentang
Kering Kentang




Sambal Goreng Kering bikinan orang Sidoarjo ini dikemas dalam kotak kontainer plastik. Buat saya kemasan ini agak kurang bersahabat kalau mau dibawa bepergian, rawan pecah kalau ketindihan barang lain. Mungkin, kedepannya kemasannya bisa menggunakan plastik klip yang lebih enak untuk dibawa dan aman ketika dikirim melalui ekspedisi.

Sudah memiliki label yang berisi tentang kandungan bahan, tanggal kedaluarsa dan berat bersih kemasan. Sayangnya, di label tidak disertakan akun media sosial atau nomor telepon yang memudahkan untuk pemesanan.

Ada 3 varian sambal goreng kering dengan pilihan rasa original dan pedas manis:
  • Sambal Goreng Kering Tempe Netto 250 gr
  • Sambal Goreng Kering Kentang Netto 150 gr
  • Sambal Goreng Kering Tempe Mix Kentang Netto 250 gr

Rasa Sambal Goreng Kering Dapur Mbak Djoemi

kering tempe kentang. sambal goreng kering sidoarjo, kering kentang sidoarjo
Sambal Goreng Kering Mix



Sambal Goreng Kering Dapur Mbak Djoemi yang saya coba adalah pedas manis. Rasanya tidak terlalu manis yang bikin eneg bercampur rasa gurih dengan aroma daun jeruk dan bawang putih. Pedasnya masih dalam tahapan aman, tapi kalau kamu benar-benar tidak bisa makan yang pedas, mungkin bisa coba rasa yang original.

Tekstur kering kentang kriuk dan tidak berminyak. Rasanya malas kalau makan kering kentang yang terlalu berminyak. Sedangkan, tekstur tempenya juga kering dan tidak berminyak, hanya saja buat saya potongannya terlalu besar, kalau yang punya problem gigi bakal agak kesulitan untuk mengunyah.

Sambal goreng kering ini enak dijadikan teman makan nasi, entah itu nasi putih, nasi kuning atau bahkan nasi uduk. Semuanya cocok. Saya sendiri juga malah menjadikan sambal goreng kering kentang sebagai camilan. Bikin ketagihan.


Baca juga:

Kesimpulan


Sambal Goreng Kering Dapur Mbak Djoemi bisa jadi teman makan nasi yang praktis dikala nggak ada lauk atau sebagai tambahan pendamping nasi. Untuk harga bisa dibilang terjangkau dengan yaitu hanya 20.000/pack.

Cocok juga dijadikan alternatif oleh-oleh untuk sanak dan kerabat.


Untuk mendapatkan sambel goreng kering tempe mix kentang bisa hubungi akun Instagram @MbakDjoemmy atau Fb : Mbak Djoemy.

Bisa juga ke alamat : Tebel Barat Rt 7/ 1 Gedangan Sidoarjo

Tertarik untuk jadi reseller ? Hubungi : 081335551245


Selamat mencoba,


Pengalaman Dimanfaatkan Teman

Pengalaman Dimanfaatkan Teman

Hand in frame, pengalaman dimanfaatkan teman, flatlay

Ketika Kebaikan Disalah Artikan


“Kamu orangnya terlalu baik sama orang, akhirnya banyak yang memanfaatkan kebaikanmu,” seorang sahabat pernah bilang begini sama saya.

Jujur saya dulu nggak paham dengan apa yang dikatakannya kala itu. Saya anggap kebaikan yang saya lakukan kepada orang membutuhkan bantuan masih dalam tahap wajar. Apalagi ajaran ortu sejak kecil adalah berbuat baik sama orang meski orang itu mungkin tidak menghargai yang kamu lakukan.

Jadi, saya tidak mempermasalahkan hal tersebut sampai suatu titik, ada sebuah kejadian yang membuat saya belajar untuk menghidupkan radar waspada terhadap orang-orang disekeliling. Ada kalanya saya harus belajar mengatakan ‘tidak’ terhadap permintaan orang lain.

Tidak membantu, bukan berarti kamu tidak perhatian pada mereka. Hanya saja ada sekelumit orang yang kerap kali mempergunakan kebaikan orang lain untuk kepentingan egoisnya. Ujung-ujungnya dia membuat kita menjadi korban atas kesalahannya sendiri. Ah, melelahkan, bukan?


Baca juga:


Pengalaman-Pengalaman Dimanfaatkan Teman



Ketika Teman Kabur Dari Rumah



Alkisah, saya punya seorang sahabat saat SMA. Kami mulai bersahabat ketika saat di kelas 2. Teman ngobrol, teman curhat dan teman ngemall bareng. Berhubung dia bisa mengendarai motor, saya sering pergi kemana-mana sama dia.

Suatu waktu, saya dan dia memang berniat untuk pergi ke Jogja bersama. Kebetulan, kakak perempuan saya saat itu tinggal di Jogja, memiliki rumah sendiri. Jadi, saya bisa mengajak teman untuk menginap di sana. Niat itu sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Rencananya,  kami berangkat ke Jogja setelah saya UAS.  Berangkat bersama-sama dari Surabaya denga supaya nyaman di perjalanan. Tak kala sedang asyik ngobrol sama teman di kampus, saya mendapat telepon dari Ibu sahabat saya, sebut saja A. Ibunya bertanya apakah kami sedang bersama ke Jogja karena si A dihubungi nggak bisa dari kemarin. Pamitan ke Jogja bareng saya.

Oalah. Serius saya yang nggak tahu apa-apa akhirnya berbohong kalau kami sedang di perjalanan ke Jogja, padahal sih nggak. Langsung saja saya telepon si A, tanya apa maksudnya ini. Dia nggak jawab, katanya biar nanti langsung menghubungi ibunya sendiri.

Singkat cerita, ternyata dia ke Jogja untuk bertemu dengan teman lelaki yang dikenal lewat chat. Waw, seberani itu saudara-saudara. Saya yang di Surabaya ketar-ketir, eh dia malah santai habis ketemu kekasih hatinya. Akibat drama kabur ini, hubungan kami merenggang, dia tiba-tiba putus kuliah dan pulang ke desa. Entahlah.

Beberapa tahun kemudian, dia main ke rumah bersama suaminya. Alhamdulilah semua baik-baik saja.


Dijadikan Back Up Ketika Pacaran



Kali ini cerita yang berbeda jaman SMP. Rumah saya sudah kayak markas buat teman-teman sekolah karena ada saja yang main ke rumah entah siang hari atau malam. Apalagi kalau malam minggu, ramai.

Saya punya teman, sebut saja R. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi ya sering main bersama. Suatu hari saya main ke rumahnya di malam minggu. Di depan teras sama seorang teman. Tahu dong kalau wanita kumpul yang dibahas siapa? Lelaki.

Sekitar jam 8-an, dia pamit dong sama keluarganya mau main ke rumah. Sampai rumah, saya bingung kok ada lelaki naik motor gede sudah ada di depan rumah. Kenal juga nggak, eh ternyata itu pacar si R. Dia sengaja janjian di depan rumah dong. Pas, saya tanya alasannya, “soalnya kamu anak Guru, jadi ortuku bakal percaya sama kamu.”

Astaga sinting. 

Nggak cuman sekali, dia janjian sama seorang cowok di rumah. Pernah dong, pacarnya ditinggal di rumah, eh dianya keluyuran kemana naik motor si cowok tadi. Dan, saya disuruh nemenin. Sial.

Itu hanya sekelumit kisah bagaimana saya dimanfaatkan sama teman. Ya intinya, sih berbuat baik itu harus. Namun, jangan lupa waspada biar niat baik kita tidak disalah artikan sama orang lain. Jangan sampai kayak pepatah, Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba.
Hal-hal yang Membuat Bahagia Di Februari

Hal-hal yang Membuat Bahagia Di Februari

hal yang membuat bahagia, wire grid


Hal-hal yang Membuat Bahagia di Februari


Akhir Januari lalu, beberapa area di rumah mengalami kerusakan. Mau tidak mau dengan terpaksa kami harus melakukan renovasi rumah. Bukan sebuah keputusan yang mudah karena ketika setuju melakukan perbaikan itu artinya mengijinkan orang lain masuk ke dalam area rumah. Apalagi di masa pandemi, rasanya riskan.

Jika terus ditunda, kok kayaknya makin nggak nyaman apalagi salah satu area yang terdampak adalah kamar saya dan kakak. Kamar tersebut menjadi lebih lembab, dindingnya mengelupas dan kadang mengeluarkan aroma khas jamur. Apalagi kakak perempuan sudah mulai batuk-batuk terus karena area kamarnya paling parah.

Sesungguh melakukan perbaikan rumah itu sungguh melelahkan. Rumah yang berantakan dan tabungan yang terkuras. Huft.

Selama renovasi kamar, saya mengungsi tidur di kamar Ibu sedangkan Kakak perempuan memilih mengungsi ke rumahnya. Alhasil semua kegiatan saya hanya berkutat di kamar dan kamar selama 24 jam. Tidak hanya saya sih, ortu juga bahkan ruang makan juga berpindah ke kamar. Segala panci, magic com bawa juga ke kamar. Mau keluar nggak bisa, rumah berantakan dan debu di mana. Memakai masker di dalam rumah pun dilakukan.

Baca juga:


Ternyata oh ternyata, masalah rumah mulai merembet kemana-mana. Tidak hanya kamar yang diperbaiki, tapi segala plafon dan asbes kudu dibuka. Penyebabnya adalah rayap. Hampir memenuhi seluruh rumah. Yang awalnya perkiraan renovasi hanya 2 minggu, lalu diperpanjang sudah kayak PSBB. Kata ortu sekalian saja rumahnya diperbaiki. Oh baiklah, mari kita tarik napas panjang.

Ada hari-hari di mana saya merasa jenuh karena hanya terbatas dalam kamar, belum lagi perbedaan pendapat sama ortu yang akhirnya bikin suasana memanas. Lantas, kami mulai tertawa ketika membandingkan diri sama orang yang lebih tidak beruntung dari kami, mengungsi karena rumahnya banjir. Pada akhirnya, kami harus belajar dengan kondisi begini.

Nggak hanya cerita sedih karena renovasi rumah, Februari ini sebenarnya ada banyak kebahagiaan kecil yang bisa dirasakan. Sesuatu yang sederhana, tapi bisa menaikkan mood di kala jenuh berada di kamar saja atau melihat kondisi rumah yang masih berantakan.


Main-Main ke Mitra 10 Untuk Beli Bahan Bangunan


Selama pandemi, saya belum berani main ke Mall, hanya sebatas minimarket saja sudah bikin bahagia. Paling nggak bisa keluar rumah, ketemu orang lain dan cuci mata.

Nah, berhubung ada banyak material yang harus dibeli. Yah, pada akhirnya kami harus ke supermarket bahan bangunan, kebetulan yang terdekat ya Mitra 10. Kali pertama ke sana, saya kayak orang linglung. Nggak pernah lihat banyak orang dan banyak lampu-lampu, eh saya malah pusing. Badan kok rasanya sakit semua, psikosomatis begitulah. Sampai saya bilang sama ortu untuk segera cabut kalau urusan sudah kelar. Sampai rumah demam dong.

Giliran kedua kalinya ke sana. Sudah mulai terbiasa, saya sih senang walaupun hanya melihat keramik, semen, dll. Setidaknya bisa keluar rumah dan ketemu banyak orang. Jadi, kalau diajak ortu ke sini lagi saya nggak nolak.


Kamar Selesai Di Renovasi


working space
Penampakan kamar setelah renovasi

Hal yang paling membahagiakan buat saya di bulan Februari, akhirnya renovasi kamar selesai juga. Yay, akhirnya saya sudah mulai bisa menata barang-barang di dalam kamar. Meski belum sepenuhnya rapi, setidaknya bisa menjadi tempat saya di siang hari entah untuk menulis blog, membaca buku, memotret dan menonton drakor. Biar nggak bosan hanya di kamar ibu saja.

Saya jadi lebih bersemangat menjalani hari.

Dapat Beberapa Pekerjaan dari Blog


Di tengah kejenuhan renovasi rumah, alhamdulillah masih dikasih rezeki sama Allah. Dapat beberapa email penawaran buat blog setelah bulan sebelumnya sepi kayak di sawah, hanya terdengar suara Jangkrik. Krik….krik

Meski saat mengerjakan kudu usaha karena menulis di antara tumpukan barang di kamar ortu. Ya itu sebuah kebahagiaan yang rasanya tidak tergantikan. Nggak hanya pekerjaan dari blog, saya juga sudah bisa membuat konten foto/video di dalam kamar lagi. Yay. so happy.

Biar kata Februari hari saya tidak penuh cinta, tapi ada banyak perasaan bahagia yang menyelimuti. Tentu saja semuanya dalam keadaan sehat, itu rasanya lebih penting dari apapun.


Bagaimana Februarimu?


 Renovasi Rumah di Masa Pandemi

Renovasi Rumah di Masa Pandemi

renovasi rumah saat pandemi, renovasi rumah, membangun rumah

Drama Renovasi Rumah Di Masa Pandemi


Berawal tetangga sebelah yang melakukan pembangunan rumah baru, ternyata berdampak ke rumah saya. Kakak cerita, kalau dinding kamarnya bergelembung kayak cacar air. Ortu sih cuek aja kirain itu hanya persoalan biasa, eh ternyata, semakin hari makin parah. Gelembung di dinding makin banyak dan kalau ditusuk mengeluarkan air. Hampir 16 tahun tinggal di rumah ini, belum pernah mengalami permasalahan serupa.

Tidak hanya kamar kakak, dinding kamar saya juga mulai mengalami masalah gelembung, bedanya jika ditusuk tidak mengeluarkan air. Tidak hanya itu, beberapa dinding kamar dan atap mengalami keretakan yang lumayan. Kayaknya sih ini efek dari jack hammer, ketika mereka membangun pondasi. Suaranya keras banget, sampai kami merasa terganggu.

Akhirnya, papa protes sama tetangga sebelah tentang permasalahan rumah. Mereka mengirim orang untuk mengecek kondisi rumah. Terjadilah kesepakatan bahwa biaya untuk tukang keramik kamar ibu dan tukang cat, ditanggung mereka, sedangkan materialnya beli sendiri.

Terus kenapa ongkos keramik buat dua kamar nggak dihitung juga? Bapak terlanjur setuju sama harga tukang dan nggak bilang sama tetangga sebelah. Ya sudahlah,


Drama Renovasi Rumah



Niat awal, kamar saya hanya cat ulang dan pasang keramik, tapi Ibu bilang untuk ganti plafon saja karena memang ada banyak area yang akan diganti plafonnya, dapur, ruang makan dan garasi dalam, kamar mbak dan tentunya kamar saya.

Sembari menunggu tukang plafon, kakak iseng-iseng naik ke atas. Hasilnya, ada banyak sarang rayap di rumah. Err, akhirnya plafon ruang tengah dijebol deh karena masih ada sisa, Bapak memutuskan untuk menjebol plafon dua kamar mandi. Ternyata, banyak rayap, rumahnya sampai besar sekali. Hii karena nggak mau kecolongan lagi, akhirnya garasi, kamar pembantu dan 2 kamar atas ikut di jebol juga. Rupanya pasukan rayap sudah mengepung rumah kami.


Artikel Terkait: 


Yang tadinya hanya ingin renovasi kamar, malah merembet kemana-mana. Biaya pun ikut membengkak karena kejadian rayap ini. Kata Ortu, hitung-hitung sekalian saja deh apa yang perlu diperbaiki, ya diperbaiki sekarang. Biar kedepannya enak. Rumah ini memang sudah lama tidak dilakukan perawatan. Mangkanya, sama Allah dikasih masalah kamar biar pada tahu bahwa di atap sana banyak rayap.

Sebenarnya kami rada parno juga renovasi di tengah pandemi, memasukkan orang baru ke dalam rumah bukan perkara mudah apalagi anggota keluarga ada yang punya penyakit bawaan. Ya kita ikhtiar saja sambil berdoa dan tetap menjaga jarak dan kebersihan selama renovasi.

Hampir setiap hari nggak lepas dari masker, apalagi punya riwayat asma, sensi sama hal-hal berdebu. Belum lagi kulit wajah yang rewel karena pakai masker terus. Disyukuri saja.

Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan Saat Membangun Rumah


Pengalaman renovasi rumah kali ini memberikan banyak pelajaran bahwa membangun rumah itu tidak mudah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan sehingga rumah bisa lebih kokoh dan jauh dari kejadian yang dialami seperti ini.

  • Jika ingin membangun rumah, pilih bahan kayu yang berkualitas seperti jati, bengkirai, dll yang memang sifatnya keras sehingga tidak disukai rayap. Jadi, dari pengalaman rayap ini, kami jadi tahu bahwa dulu saat membeli kayu untuk membangun rumah rupanya si pedagang nakal, mencampur kayu pesanan kami dengan kayu jelek. Dan, tidak ada yang memeriksa kualitas kayu sebelum dipasang.
  • Pengalaman dinding kamar yang rusak, memberikan sebuah pembelajaran bahwa ada baiknya semua tembok yang bersebelahan dengan tetangga ada baiknya di keramik. Kita tidak pernah tahu kualitas tembok tetangga atau ada bangungan apa di sebelahnya. Sehingga tidak merembes ke rumah. Kalau kasus saya, tetangga membangun kolam renang yang letaknya bersebelahan dengan kamar, ditambah masalah pembuangan air tetangga belakang. Lengkap deh.
  • Pilih bahan yang berkualitas, memang mahal di awal, tapi mempermudah perawatan. Seperti contoh pemilihan cat dinding. Hampir 100% cat dinding di rumah menggunakan cat berkualitas tinggi, harganya memang lebih mahal. Namun, daya tahannya bisa diadu. Warna tetap mengkilap meski sudah puluhan tahun.
  • Ijin Sama Tetangga Sebelah Kalau Mau Bangun Rumah. Jangan hanya ijin sama perangkat RT/RW, saat akan membangun rumah ada baiknya berkunjung dulu ke tetangga sebelah kanan, kiri, belakang. Meminta ijin bahwa akan melakukan pembangunan sekaligus meminta maaf jika nanti kenyamanannya terganggu. dan apabila pembangunan yang kita lakukan berdampak pada tetangga, siapkan juga kompensasi. 
Nah, itulah pengalaman saya renovasi rumah di saat pandemi. Tetap jaga jarak, jaga kesehatan dengan pakai masker dan cuci tangan lebih sering. Sekarang, sudah nggak penasaran, kan? Saya jarang muncul di medsos.


Salam,
(Kembali) Menulis Fiksi dan Hal-hal yang Saya Sesali

(Kembali) Menulis Fiksi dan Hal-hal yang Saya Sesali


Menulis fiksi dan hal-hal yang disesali, tea and photo



Menulis Fiksi dan Hal-Hal yang Saya Sesali



Sama halnya dengan Wulan K, saya pernah punya mimpi untuk memiliki karya yang dicetak dengan nama sendiri, bukan karya bersama atau antologi.

Saya masih ingat betapa antusiasnya menulis fiksi. Otak saya selalu penuh dengan cerita-cerita rekaan baru. Menyenangkan. Kemarin, saat saya membuka folder fiksi setelah bertahun-tahun tersembunyi di laptop. Saya kagum, ternyata saya sudah menulis sebanyak itu.

Sebenarnya sudah dari beberapa tahun lalu, Wulan mengajak saya untuk kembali menulis fiksi. Dia tahu betapa dulu saya menggilai dunia fiksi. Perkenalan pertama kami juga dimulai dari workshop menulis novel. Saya dan Wulan juga sempat berkolaborasi dalam menulis novel, tapi tidak berlanjut entah karena apa. Lupa.

Tahun 2021 ini, saya kembali memberanikan diri menulis fiksi. Bukan perkara mudah karena bertahun-tahun hiatus. Hampir setiap hari ada yang saya tanyakan sama Wulan tentang bagaimana sih cara menulis novel dari awal. Astaga. Sampai ditertawakan Wulan katanya saya kayak pemula saja.

Niat awal ingin membuat kisah baru. Namun, saat melihat tumpukan draft yang belum selesai kok kayaknya sayang. Saya akhir memutuskan melanjutkan draft novel yang belum selesai, salah satu karakter utamanya merupakan kesayangan saya.

Beberapa hal-hal berikut yang membuat saya menyesal kenapa tidak kembali lagi menulis fiksi sejak dahulu.


Terlalu Takut Memulai


Setiap kali hendak memulai menulis fiksi, ingatan saya akan coretan-coretan merah di naskah membuat saya takut. Semacam ada bisikan-bisikan yang seakan-akan menertawakan tulisan saya. Padahal itu hanya pikiran saya sendiri.

Seandainya saya lebih berani untuk memulai mungkin semua draft yang terlupakan itu sudah selesai menjadi cerita. Perlahan, saya sedang berusaha mengubah pikiran negatif yang sudah terlalu lama mengakar ini.


Baca Juga:

5 Penulis Fiksi yang Membuat Jatuh Cinta 

7 Daftar Keinginan Di Tahun 2021 


Terlalu Banyak Menunda


Berapa kali Wulan gemas menanyakan Bab 1 saya yang belum selesai juga, ada saja alasan yang saya kemukakan. Padahal, saya sendiri menundanya dengan alasan ah masih hari Senin in, eh tahu-tahu seminggu sudah berlalu. Giliran ditagih sama Wulan cuman senyum-senyum. Untung partner menulis saya baik hati.

Kebiasaan menunda pekerjaan ini yang bisa dibilang agak susah saya ubah, entah mengapa saya suka sekali bekerja dekat-dekat jadwal berakhir, padahal ini bukan sesuatu yang baik.


Terlalu Banyak Alasan


Manusia itu gudangnya alasan. Padahal kalau coba dikerjakan toh bakal selesai juga. Sayangnya, alasan-alasan yang nggak jelas dikemukakan terlebih dahulu yang pada akhirnya membuat kita jadi mikir. Ah iya benar juga. Alhasil nggak jadi nulis.

Padahal, sampai ikutan workshop menulis bersama WIndry Ramadhina, eh tetap saja banyak alasan yang mau nulis. Argh.

Terlalu Baper


Tahun 2020 sepertinya saya kebanyakan baper deh. Melihat beberapa teman berhasil dengan karya-karyanya eh bawaannya iri. Kok saya hidupnya gitu-gitu aja. Padahal ya memang diri saya sendiri aja yang nggak mau berkembang, tidak mau mencoba karena takut gagal duluan.

Kok familiar banget ya sama model begini. Dulu saya pernah komentar sama orang model begini yang mudah baper sama temannya yang berhasil, eh malah kejadian sama diri sendiri. Karma, banget.

Ah iya, begitulah cerita saya tentang pengalaman kembali menulis fiksi, Semoga proyek yang sedang saya kerjakan bisa berhasil diselesaikan sampai tuntas, sehingga saya bisa mematahkan ketakutan-ketakutan yang saya buat sendiri.

Seperti kata seorang penulis, “Mending menghasilkan karya yang buruk, tapi selesai. Ketimbang menunggu menghasilkan karya yang indah. Namun, hanya angan-angan.”

Semangat ya, Tika. Mari selesaikan tulisanmu itu dengan indah. Dengan begitu kamu akan menjadi lebih percaya diri dalam menapaki kembali karir menulismu yang sejak bertahun-tahun mati.
7 Daftar Keinginan Di Tahun 2021

7 Daftar Keinginan Di Tahun 2021


7 Daftar Keinginan DI Tahun 2021, woman in lake, swastikha.com, wanita di pinggir danau


Bagi saya tahun 2020 menjadi tahun terberat. Sepanjang tahun tahun 2020, namanya emosi sudah kayak permainan Bianglala. Naik ke puncak gunung lalu turun perlahan sampai titik terendah. Rasanya melelahkan.

Diawali dengan pandemi yang membuat gerak jadi terbatas. Biasanya paling nggak seminggu 1x bisa keluar rumah ketemu teman atau sekedar cuci mata di mall, mendadak nggak boleh sama sekali. Apalagi saya sudah dipingit sejak akhir tahun karena mau operasi. Itu sempat membuat saya kehilangan gairah dan sedikit stress.

Sehabis operasi mood juga nggak langsung balik, badan yang sakit semua karena aktivitas juga terbatas pengaruh banget sama emosi. Saya merasa jadi lebih sensitif, bawaannya pengin nangis kalau ada yang ngomongnya gimana gitu. Ahhh.

Pekerjaan sebagai blogger yang biasanya ramai, mendadak sepi. Berbulan-bulan rekening saya kosong tanpa pemasukan. Untungnya masih ada tabungan yang memang disisihkan. Hal ini juga sempat bikin iri ketika ada teman yang senang karena invoice baru cair. What a life.

Itulah kenapa di tahun 2021 yang baru berjalan 2 minggu ini, saya ingin ke depannya saya lebih santai dalam menjalani. Melakukan banyak hal yang memang saya sukai karena memang ingin lebih banyak tersenyum, tapi tetap melakukan semuanya dengan serius.

7 Daftar Keinginan di Tahun 2021


Saya tidak menyebut ini sebagai resolusi melainkan daftar keinginan yang rasanya menarik dilakukan di tahun 2021 ini. Apa saja ya kira-kira?


Kembali Menulis Fiksi


Beberapa bulan terakhir, saya sama Wulan lagi intens membicarakan hal yang berhubungan dengan dunia fiksi, seperti yang sering kami lakukan dulu. Beberapa kali Wulan meminta saya untuk kembali menulis fiksi. Saya sendiri belum terlalu percaya diri untuk kembali bermain-main dengan tokoh rekaan.

Seminggu lalu, saya memberanikan diri membuka folder tulis-menulis yang bertahun-tahun dilupakan. Saya menemukan banyak tulisan-tulisan, naskah novel yang belum selesai. Serasa menemukan banyak harta karun.

Akhirnya, saya memutuskan mengunggah beberapa tulisan lama ke platform seperti saran dari Wulan. Ada cerita di sekitar yang merupakan kumpulan cerita pendek dan sebuah novel yang diberi judul Milana

Semoga saja saya istiqamah saat menulisnya.


Belajar Photoshop


Tahun lalu, saya pernah menulis ingin belajar Photoshop, tapi belum tercapai juga alias malas. Tahun ini, demi memulai rencana ini akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku cetak tentang aplikasi Photoshop. Kalau sedang kebingungan, buku ini bisa menjadi panduan karena terkadang menonton video di youtube cukup membuat kewalahan.

Buat apa belajar Photoshop?

Buat mengedit foto-foto yang sudah saya hasilkan menjadi lebih baik lagi dan menambah skill biar nggak cuman bisanya itu-itu saja.


Belajar Foto Produk


Tahun 2021 inginnya menekuni foto produk, meski nggak buka jasa foto produk setidaknya bisa dipergunakan untuk foto-foto di blog dan media sosial. Jujur, foto produk ini masih agak membuat saya kesusahan karena membutuhkan kemampuan menata yang apik. Bisa dibilang itulah kelemahan saya.

That’s why, saya pengin lebih banyak berlatih motret lagi.


Olahraga Seminggu 2x


Ini salah satu wishlist yang mudah ditulis, tapi susah untuk dilakukan. Semoga di tahun 2021 ini lebih rajin melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi keliling komplek atau melakukan Yoga. Nggak usah setiap hari, ya paling tidak seminggu 2x. Badan sehat, pikiran juga ikutan sehat karena meningkatkan kualitas tidur.



Mengurangi Over Thinking


Tahun 2021, belajar mengendalikan pikiran. Sebagai manusia biasa ada kalanya timbul rasa iri terhadap kehidupan orang lain. Terlebih lagi kalau kita merasa ya hidup kita gitu-gitu aja. Akibatnya pikiran negatif muncul dan seringkali menimbulkan kecemasan.

Kecemasan yang menumpuk membuat kualitas tidur di malam hari menjadi terganggu, bangun pagi jadi BT. Gitu saja terus sampai lelah.

Tahun ini, saya ingin mencoba menikmati hidup dengan santai, melakukan hal yang disukai dan juga lebih menikmati kegiatan sehari-hari. Lupakan sejenak DA blog, follower di medsos. Menikmati menjadi orang yang biasa saja. Karena hidup juga butuh dinikmati.

Membuat Home Studio


Saya punya mimpi pengin punya home studio, di mana bisa dijadikan tempat untuk foto-foto sekaligus ruang kerja. Mungkin semacam ruang kreatif gitulah. Tidak usah terlalu besar ukurannya yang penting memiliki banyak jendela yang bisa memberikan cahaya yang melimpah.

Salah satu wishlist juga di tahun ini adalah menambah lampu studio baru. Kamar saya itu tidak memiliki cukup sumber cahaya karena tidak ada jendela sehingga meski memakai lampu tambahan kok rasanya kurang terang. Setidaknya dengan lampu tambahan ini bisa mendukung hasil foto menjadi lebih baik. Eh siapa tahu habis gitu ada yang mau bangunin home studio. Amin.

Menikah


Keinginan menikah pasti sudah masuk ke dalam daftar keinginan setiap tahunnya. Namun, rupanya Allah masih belum mengizinkan. Tahun ini kembali saya masukkan list, siapa tahu kali ini Allah merestuinya. Amin


Yak, itulah 7 daftar keinginan di tahun 2021. Entah terwujud atau tidak yuk mari kita banyak ikhtiar.


Salam,


Perayaan Tahun Baru, Haruskah Dirayakan?

Perayaan Tahun Baru, Haruskah Dirayakan?

perayaan tahun baru, lampu kristal

Perayaan Tahun Baru yang Muram



Beberapa tahun belakangan, saya sudah berhenti mengistimewakan akhir tahun. Entah, karena umur yang membuat saya tidak lagi bisa begadang atau memang jenuh karena perayaannya ya hanya itu-itu saja. Kembang api, terompet dan suara petasan yang menggema hampir di seluruh penjuru tidak peduli komplek perumahan mewah atau gang-gang sempit di kawasan kota Surabaya.

Tahun 2020, rasanya malam pergantian tahun menjadi berbeda. Kasus pandemi Corona yang belum usai dan semakin meningkat membuat pemerintah memberikan himbauan untuk tidak mengadakan keramaian di saat malam tahun baru. Semua kegiatan keramaian, jualan diberlakukan hingga jam 8 malam. Bahkan, hotel-hotel pun tidak boleh menggelar perayaan tahun baru.

Pergantian Tahun Baru 2020 kali ini kata sebagian orang muram. Bagi saya, sama saja sih dengan bergantinya bulan baru. Lagi pula rasanya tidak etis kita asik berkumpul di keramaian lalu lupa ada sebagian orang yang tengah berjuang di RS. Pasien yang terbaring dengan ventilator dan petugas nakes yang mulai kelelahan. Tidak adil rasanya kalau kebahagiaan kita turut andil menyumbang penularan Covid 19.

Ya sudahlah. Mari kita rayakan di rumah masing-masing sembari menulis resolusi sama seperti tahun-tahun sebelum serta tidak lupa berdoa supaya Corona lekas menghilang dari muka bumi.

Lantas apa yang saya lakukan di saat libur akhir tahun.


Maraton Nonton Drama Korea


Ketika tanggal 31 Desember, kebetulan langganan Netflix habis dan beberapa drama korea yang saya tonton di ViU banyak yang tidak tayang. Alhasil saya memperbarui langganan Netflix demi menonton drama yang kebetulan tayang di sana.

Dari pagi saya sibuk memasukkan list drama/film yang akan saya tonton di liburan akhir tahun. Seru aja sih, kayak semacam me time buat diri sendiri sebelum kembali bertarung untuk kehidupan di tahun 2021.

Pokoknya seharian kerjaannya cuman guling-guling di atas kasur sampai bosan.


Rencana BBQ Bareng Keluarga



Sebelum nonton drakor, saya sudah sibuk sejak pagi. Sibuk potong fillet ayam buat BBQ malam hari bareng keluarga. Sebenarnya bukan saja aja sih yang sibuk potong daging ayam, ada kakak ipar dan kakak perempuan. Pokoknya menu hari itu serba ayam.

Terniat banget pokoknya sampai nggak sadar jari tangan ikutan teriris. Alhasil nyeri seharian padahal beberapa hari sebelumnya juga kena pisau pas di area yang sama. Entah lagi mikirin apa.

Malamnya, mau bakar daging kok ya malas. Jadi, malam itu yang BBQ cuman kakak ipar dan saya hanya nyomot beberapa saja. Ayam yang sudah dimarinasi sejak pagi nganggur deh dalam kulkas.


Baca Buku



Bosan nonton film, saya beralih membaca buku. Habis bongkar lemari buku, ternyata ada setumpuk novel yang belum selesai dibaca dari tahun lalu. Mau nggak mau harus dibaca karena tahun 2021 karena ingin kembali menulis fiksi. Sudah dapat teror dari beberapa teman yang selalu nanya kapan saya nulis novel lagi. Terharu dong.

Terlalu lama hibernasi membuat saya lupa bagaimana cara memulai cerita. Membaca, membantu menyegarkan ingatan bagaimana cara memulai sebuah cerita. Semoga istiqomah dan nggak terdistraksi sama hal lain. Doakan saya.


Baca juga: 

Saya Membenci Perayaan Tahun Baru 

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Corona Berakhir? 


Tidur Awal


Saat malam pergantian tahun, saya tidak berniat untuk mengubah pola tidur. Biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Saya tidur sekitar jam 8 malam sehabis membaca dan menonton beberapa episode drama.

Alhamdulilah nyenyak sampai pagi, tetangga sebelah pengertian banget. Biasanya mereka paling ribut karena menyalakan petasan dan membuat tidur terganggu. Semakin berumur, saya tidak menyukai suara petasan. Rasanya nggak nyaman di dada. 2 tahun lalu saya pernah nangis tepat jam 00.00 karena tetangga sebelah menyalakan petasan yang gila-gilaan.

Lagi enak-enak tidur lalu mendengar suara keras, rasanya gelisah. Saya nangis nggak karuan karena bunyi petasan nggak berhenti-berhenti. Mami sampai panik dan Papi akhirnya kirim sms sama tetangga sebelah.

Fyuh pokoknya drama banget kalau menjelang akhir tahun, tapi saya bersyukur tahun ini bisa tidur dengan damai.

Perayaan tahun baru, haruskah dirayakan?
Pengalaman Tragis di Akhir Bulan

Pengalaman Tragis di Akhir Bulan

pengalaman tragis di akhir bulan


Pengalaman Tragis di Akhir Bulan


Saat kuliah dulu, ortu memberikan saya uang jajan sebesar Rp. 300.000 selama satu bulan. Semua itu sudah termasuk uang makan, transportasi, pulsa dan kebutuhan sehari-hari. Entah bagaimana caranya mengelola, pokoknya tiga ratus ribu itu sudah harga mati.

Awal kuliah, saya selalu bareng kakak ke kampus, pun saat pulang. Terkadang untuk menghemat, saya rela tidur di mobil sambil kegerahan untuk menunggu kakak selesai kuliah. Kami beda jurusan dan kadang beda jam pulang kuliah. Huh, capek juga sih kalau nunggunya kelamaan, tapi nggak papa deh setidaknya bisa menghemat uang jajan.

Di awal bulan rasanya tuh bahagia sekali, uang masih banyak jadi kadang suka khilaf buat foya-foya. Membeli hal-hal nggak penting, seperti benda-benda berwarna merah muda. Entah buat apa, pokoknya beli aja. Terus baru sadar di akhir bulan, keuangan mulai menipis dan ujung-ujungnya harus kembali berhemat.

Sebagai mahasiswa kekurangan uang itu sudah kayak trademark meski saya tidak ngekos seperti teman-teman lainnya. Ada saja pengalaman tragis di akhir bulan yang konyol untuk diceritakan. Seperti waktu itu yang menurut saya paling parah.


Kehilangan Kartu Loker Perpustakaan



Hari itu saya ke perpustakaan untuk mencari literatur buat proposal skripsi. Sama seperti peraturan beberapa perpustakaan, kami tidak boleh membawa tas ke dalam. Tas harus dititipkan di loker yang dijaga oleh petugas.

Selesai mengambil dompet, handphone dan buku untuk mencatat. Saya mengambil kartu loker yang diserahkan oleh petugas lalu naik ke lantai 2 di mana tempat perpustakaan Fakultas Psikologi berada. Saya memilih tempat di pojok, meletakan buku catatan sebagai tanda, kemudian mencari literatur yang saya butuhkan melalui komputer.

Keasyikan mencatat membuat saya lupa waktu nggak terasa sudah sekitar jam satu siang. Rencananya mau sholat dulu terus balik pulang ke rumah, sampai di depan loker penyimpanan tas, saya membuka dompet mencari kartu loker. Ternyata kartunya nggak ada, panik dong saya. Akhirnya saya kembali masuk ke dalam. Mencoba menelusuri pelan-pelan lokasi yang tadi saya lewati. Ketar ketir karena menghilangkan kartu loker perpustakaan kena denda Rp. 50.000. Duh, pas buka dompet uangnya cuman sisa Dua Puluh Ribu Rupiah. Hiks rasanya pengin nangis dong.

Setelah berkali-kali mencari, saya menyerah dong. Akhirnya saya bilang sama penjaga loker kalau kartunya hilang. Sempat dikasih kesempatan untuk mencari lagi tapi saya bilang kalau sudah berkeliling 3 kali. Akhirnya saya mencoba menelepon salah satu teman yang kebetulan ada di kampus. Saya menceritakan kejadian yang dialami, untungnya teman saya bawa duit lebih. Kebayang kalau nggak. Bisa nangis beneran saya.

Alhamdulillah bisa keluar juga dari perpustakaan setelah drama kehilangan kartu. Rencana pulang langsung batal, sehabis shalat saya memutuskan main ke lab komputer saja untuk mendinginkan diri dan pikiran.

Sejak tragedi itu, tiap main ke perpustakaan atau ke lokasi yang ada penyimpanan loker saya suka insecure takut kehilangan kartu lagi.


Baca juga:


Menantang Banjir



Keluar dari Lab komputer saya baru menyadari bahwa di luar hujan deras, kebetulan lab komputer kampus memiliki peredam suara jadi nggak bisa mendengar suara di luar. Nah, daerah Darmawangsa, tempat kampus saya berada itu merupakan daerah langganan banjir sejak dahulu kala.

Fyuh, bingung dong bagaimana mau pulang. Kakak menelepon mau menjemput ternyata dia sedang main ke kampus, tapi saya nggak enak sama teman yang tadi meminjamkan uang. Masak iya habis pinjam uangnya saya tinggalkan begitu saja.

Mobil teman saya jenis sedan, nggak mungkin bisa menembus banjir tinggi. Ya sudah pasrah saja menunggu air surut. Lagipula besok libur kuliah. Jam 20.00, kami memutuskan menerobos pulang. Sempat ketar-ketir juga bisa nggak ya pulang dengan selamat menantang banjir,

Sesudah mengisi bahan bakar, kami melanjutkan perjalanan. Eh, ternyata kami ditipu dong, tanda lampu bensin masih kedap-kedip. Jadi, barusan bensin yang kami isi tidak bertambah. Huu sedih di tengah banjir begini. Teman saya yang menyetir mulai panik dong, sambil berdoa saya menenangkan dia.

Akhirnya kami bisa melewati banjir tinggi di daerah Kertajaya. Mampir lagi ke Pom Bensin untuk kembali mengisi bahan bakar. Sisa uang Dua Puluh Ribu saya kasihkan karena uang teman saya hanya tersisa Rp. 50.000.

Setidaknya bensinnya bisa terisi dan cukup sampai rumah.

Hari itu benar-benar pengalaman tragis yang terlupakan sampai sekarang. Kejadiannya juga pas akhir bulan ketika keuangan sudah mulai seret. Kejadian itu semacam pengingat untuk tidak boros menghabiskan uang yang ada. Sering ada kejadian yang tidak terduga.

Kalian ada pengalaman apa soal drama akhir bulan?
Teruntuk Tikha

Teruntuk Tikha

tangkuban perahu, surat cinta, surat, teruntuk tikha, wisata bandung



Dear Tikha,


Tahun ini usiamu genap 36 tahun, usia yang kata orang sudah lewat untuk memasuki usia pernikahan. Beruntung saja kamu tinggal di kota, bukan di desa yang bakal jadi omongan tetangga karena usia di atas 30 tahunan masih betah melajang.

Kadang, aku heran. Mengapa sih orang-orang sibuk menanyakan hal yang nggak penting kepada orang lain? Beneran peduli atau sibuk mencari bahan untuk diomongkan kembali sama orang lain? Entahlah.

Apakah kamu bahagia? Menyendiri selama ini?

Aku tahu kok bagaimana kamu diam-diam di tengah malam yang sunyi terkadang memikirkan hidupmu yang hanya stuck di sini. Di kala beberapa temanmu sibuk merajut kisah cinta dengan pasangan, kamu sendiri hanya berteman kesendirian. Memikirkan apakah nanti akan ada masanya kamu memiliki pasangan yang bisa diajak ngobrol, peluk menjelang tidur?

Tak apa Tikha. Tak ada yang namanya ketinggalan.

Bukankah Kah kamu tahu, Allah tidak pernah ingkar? Mungkin saja dia tengah menyiapkan seseorang yang memang benar-benar tepat denganmu. Allah tidak mau membuatmu tersakiti lagi, seperti dulu. Allah sengaja membawa pergi lelaki yang mendekatimu karena tahu bahwa mereka itu bukan untukmu.

Berbahagialah, lakukan apa yang kamu sukai. Jangan hiraukan apa kata orang tentang dirimu. Kamu tidak butuh validasi dari orang lain untuk merasa bahagia. Kamu yang pegang peranan itu bukan orang lain.

Aku tahu, selama bertahun-tahun kamu hidup dengan prasangka orang. Ketika masih kanak-kanak, mungkin kamu hanya menganggapnya angin lalu bahkan tak segan-segan kamu protes pada teman-teman yang mengejekmu ‘robot.’ i’m proud of you. Kamu belajar untuk mengatakan apa yang tidak disukai kepada orang lain.


Seiring berjalannya waktu, kamu tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Katamu, ‘omongan orang itu tajam, dan kamu tidak ingin tersakiti.’ Kamu memilih menyimpan rapat-rapat semua perasaanmu dan hanya berteman dengan buku diary. Sejak itu kamu tidak menyukai tatapan orang lain yang seolah iba atas kondisimu. Kata orang kamu penyakitan, bodoh dan menyedihkan.

Maaf ya Tikha, saat itu aku tak bisa melindungimu. Aku memilih bersembunyi dibalik ketakutanmu itu, memilih diam, menyaksikan kamu berjuang dengan pergulatan batin masa remaja dan tekanan hidup yang keras.

Aku bersalah. Ketika membiarkanmu memiliki pikiran untuk bunuh diri. Seharusnya., aku yang paling membelamu saat itu. Maaf, aku sama lemahnya denganmu, tapi aku bangga padamu. Kamu bertahan meski rasa sakit tiap malam menderamu.


Terima kasih Tikha, sudah bertahan. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik selama ini.

Sekarang, aku semakin bangga padamu. Kamu tumbuh menjadi pribadi yang mulai terbuka dengan orang lain. Perlahan, kamu percaya bahwa tidak semua orang berprangsangka buruk padamu. Aku tahu kamu masih belajar untuk itu. Good job.

Satu lagi, kamu hebat sudah melewati masa-masa pemulihan sehabis operasi. Tetaplah sehat biar kita bisa merangkai hari yang penuh bahagia bersama. Ada banyak impian yang belum kamu penuhi. Mengunjungi negara Jepang seperti yang sudah kamu tulis di postingan blog, menikah dan mengunjungi Baitullah bersama keluarga besar.


Baca juga: A Letter To Hana


Aku dari masa kecilmu akan menjadi saksi dari kebahagianmu itu. Sekali lagi terima kasih sudah bertumbuh dan bertahan dalam waktu yang lama. Aku selalu bangga padamu.

Mari berbahagia, Tikha. Kita sambut usia 36 tahunmu dengan penuh rasa bersyukur karena Allah membantumu hingga saat ini.


Salam sayang, 


Aku dari masa kecilmu.

Tentang Matematika

Tentang Matematika

pelajaran matematika, tentang matematika, kelas matematika


Tentang Matematika dan Didikan Papi yang Keras


“Pelajaran apa yang tidak kamu sukai?”


Tentu saja saya akan menjawab dengan lantang, Matematika.


Saya lupa kapan tepatnya menyatakan ketidaksukaan pada Matematika karena semua masih baik-baik saja saat Sekolah Dasar. Masih menikmati pelajaran yang memang nyatanya membantu menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Namun, seiring waktu mulai muncul permasalahan yang berkaitan dengan pelajaran Matematika. Mulai dari hal kecil sampai membuat saya merasa amat tidak nyaman.

Ortu mendidik kami dengan cara yang bisa dibilang lumayan keras. Keduanya memfokuskan bagaimana kami bisa juara kelas, meski saya tidak ditarget apapun karena kondisi kesehatan, tapi saya tidak mau menjadi bayang-bayang kedua kakak. Saya ingin membuktikan pada ortu bahwa saya mampu.

Setiap sore kami bertiga mempunyai jadwal khusus dengan Papi yaitu menghafalkan perkalian. Mulai dari menyebutkan hingga tebak-tebakan. Jika ada yang terlewatkan alias lupa, Papi tidak segan-segan memukul kaki kami menggunakan pecut/penebah (alat untuk membersihkan tempat tidur).

Buat kami bertiga, setiap sore sudah seperti ruang pengadilan. Menyeramkan karena membayangkan rasa sakit ketika dipukul. Saking kesalnya dengan cara Papi mendidik kami, Mas Wawan membuang pecut tersebut jauh-jauh.

Apakah Papi berhenti?

Oh tidak. Semua itu terus berlanjut sampai SMP.


Sakit Perut dan Nilai Merah Di Raport


Menginjak Sekolah Menengah Pertama, saya mulai merasakan ketidaknyamanan menghadapi pelajaran Matematika, saat itu saya kelas 3 SMP. Guru yang mengajar sih biasa saja, hanya saja kadang beliau suka gemas pada siswa yang tidak mengerti. Setiap kali ada PR atau pelajaran Matematika, rasanya enggan pergi ke sekolah.

Memasuki SMA, kecemasan saya dengan pelajaran Matematika meningkat. Kondisi terparah ketika kelas 2 SMA. Di sekolah kami ada 2 orang yang mengajar Matematika, keduanya sama-sama perempuan dengan usia cukup lanjut. Keduanya memiliki metode cara mengajar yang berbeda.

Guru Pertama, tidak pernah menggunakan kekerasan saat mengajar. Hanya saja cara mengajarnya cepat dan cuek. Mau mengerti apa tidak, itu urusan kamu. Sedangkan, guru kedua kebetulan juga wali kelas. Beliau beberapa kali mencubit siswa yang tidak bisa mengerjakan.

Saat beliau mengajar tidak ada yang bersuara. Seolah-olah semua siswa memasang gelembung udara guna melindungi diri dari tatapan sinar laser Bu Guru. Disuruh maju ke depan sudah seperti hukuman apalagi kalau kamu tidak bisa mengerjakan. Siap-siap saja kulit perut/tanganmu membiru kena cubitan.

Setiap kali pelajaran Guru tersebut, mendadak saya diserang diare/perut nyeri, alhasil saya selalu izin pergi ke UKS. Menghilang tiap kali pelajaran Matematika.

Hal lucu yang pernah dilakukan ketua kelas karena memang tidak suka dengan cara mengajar beliau. Waktu kelas kami berada di lantai 2, ketua kelas mempunyai ide buruk, mengunci setiap pintu menuju lantai 2, supaya guru tersebut tidak mengajar. Astaga. Beberapa kali juga, Ketua Kelas sengaja tidak memanggil Ibu tersebut ketika pergantian pelajaran, sehingga lupa mengajar.

Guru tersebut sudah kayak public enemy bagi para siswa.

Ada kejadian lain yang berhubungan dengan Matematika, waktu itu saya baru masuk sekolah setelah hampir 1 bulan pasca pemulihan operasi. Waktu itu pelajaran Matematika, saat merasa frustasi karena tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh Guru.

Baca juga:

 Pengalaman Mengajar Murid Kembar


Sepulang sekolah saya menangis karena nggak paham dengan apa yang diajarkan hari itu. Mami mendengar tangisan saya dan beliau pun mencarikan Guru Les Privat. Seiring waktu saya mulai kembali mengikuti pelajaran yang tertinggal termasuk Matematika.

Satu hal yang mengejutkan ketika penerimaan Raport Caturwulan I, saya mendapat nilai 4 pada pelajaran Matematika. Untungnya pada caturwulan berikutnya saya memperbaiki semua yah, tetap saja nilai Matematika saya di raport 6.

Kelas 3 SMA, saya masuk jurusan IPA seperti yang diminta oleh Papi. Rasanya tersiksa karena jam pelajaran Matematika menjadi lebih banyak beberapa jam. Untungnya Guru yang mengajar enak, sehingga saya bisa menjalaninya dengan baik.


Mengulang Statistik Hingga 3 x Saat Kuliah



Saya pikir masuk jurusan Psikologi merupakan hal yang tepat karena masuk ke dalam Jurusan Sosial jadi secara tidak langsung tidak terlalu banyak urusan hitung menghitung. Ternyata saya salah.

Di Psikologi ada banyak mata kuliah yang berhubungan dengan Matematika, salah satunya Statistik. Mata kuliah ini dibagi 2 menjadi Statistik 1 dan Statistik 2.

Suasana kuliah beda dengan ketika Sekolah Menengah Atas, cara mengajarnya juga berbeda lebih ke based experience, tapi tetap saja untuk kuliah statistik saya merasakan cemas. Entah kenapa kayak ada perasaan nggak nyaman tiap kali kuliah statistik.

Pernah dong sudah fokus mendengarkan penjelasan dari dosen tetap saja saya nggak ngerti. Untungnya nggak kebagian ditunjuk sama dosen.

Saat pembagian KHS, saya kaget ternyata nilai statistik saya E, wuih. Perasaan saya rajin mengerjakan tugas deh. Semester berikutnya saya mencoba kembali mengulang dengan beberapa teman, nilai saya naik dong jadi D. Hahah.

Berhubung mata kuliah wajib, mau tidak mau saya harus mengulang meski rada malu karena harus mengulang sama adik kelas. Saat kuliah milih duduk di bagian belakang, malu sama para adik-adik. Alhamdulillah hasilnya bagus, nilai saya jadi A/B,

Buat saya pelajaran matematika itu masih tetap menakutkan, mungkin efek dari pola asuh masa lalu membuatnya menjadi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Padahal pelajaran berhitung lainnya tidak masalah bagi saya. Entahlah.

Kalau kalian ada pengalaman buruk nggak tentang matematika?
Pengalaman Umroh yang Tidak Terlupakan

Pengalaman Umroh yang Tidak Terlupakan


Pengalaman umroh tidak terlupakan, umroh


Konsep Rezeki Nggak Sama Dengan Logika Matematika



“Apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai.”


Pada ingatkan sama kata bijak di atas yang kayaknya sering banget diucapkan sama banyak orang. Kata bijak di atas itu kayak semacam pengingat bahwa ketika kamu berbuat kebaikan maka akan kembali dalam bentuk kebaikan. Sebaliknya, kalau kamu berbuat jahat dengan orang lain, ya jangan salah kalau pada akhirnya kejahatan itu berbalik sama dirimu.

Konsep itu yang sampai sekarang saya ingat.

Kata ortu, jangan segan berbuat baik sama orang karena bisa jadi orang tersebut adalah penarik rezeki bagi kita. Yap, rezeki yang kita miliki itu terdiri dari dua sumber: rezeki yang didapatkan dari pekerjaan dan rezeki yang berasal dari orang lain. Oh iya, sama satu lagi rezeki yang memang sudah dijamin sama Allah, contohnya udara, sinar matahari, air hujan, panca indera, dll. Semua yang harus disyukuri.

Konsep rezeki sendiri itu nggak sama dengan logika matematika, nggak ada yang pasti. Tergantung sama apa kata pemilik Bumi dan Langit. Ada yang dikasih lancar seperti jalan bebas hambatan dan ada juga yang harus menempuh jalan berliku supaya bisa mencapai rezeki itu. Ada juga rezeki yang tidak terduga, tahu-tahu ketiban rezeki. Nah itu dia rahasia dari Allah SWT.


Pengalaman Umrah yang Tidak Terlupakan


Beberapa tahun silam, saya pernah umrah bersama bersama kakak. Kami berangkat berlima sengaja memilih momen yang berdekatan dengan Ramadhan, setidaknya seumur hidup bisa merasakan nikmat berpuasa di tanah Haram.

Berangkat dari Indonesia semuanya berjalan lancar. Kala itu bersama rombongan beberapa orang dari Surabaya. Ada salah satu rombongan yang berusia lanjut, dia berangkat bersama adik/kakak. Sempat mengalami masalah di bagasi karena membawa gunting kuku di tas sehingga digeledah.

Sama seperti Mami, beliau mengalami masalah di kakinya sehingga jalannya melambat dan ditinggal oleh saudaranya. Saya diminta oleh Papi membantu, sepanjang jalan menuju gate, saya membantu menggandeng beliau.

Alhamdulillah perjalanan umroh kami lancar dan mendarat dengan selamat di bandara King Abdul Aziz tanpa kendala apapun. Meski sempat menunggu Papi yang tertahan di imigrasi yang cukup lama, sampai hotel sekitar jam 12 malam.

Dari beberapa kali perjalanan Umrah, bisa dibilang perjalanan kali ini istimewa, bisa bersama keluarga besar yang merupakan momen langka, meski sepenuhnya tidak lengkap tanpa kehadiran keluarga kakak kedua. Ada beberapa peristiwa yang membuatnya menjadi momen yang tidak terlupakan.


Baca juga:



Hotel yang Di Upgrade


Begitu ke luar dari bandara, ketua rombongan memberi pengumuman bahwa ada perubahan hotel yang akan kami tempati. Program Umroh ini seharusnya menginap di Grand Zam Zam Makkah. Namun, ada perubahan karena hotelnya penuh sehingga kami dipindahkan ke Royal Makkah Clock Tower, merupakan salah satu hotel bintang 5 milik keluarga kerajaan. Tanpa tambahan biaya apapun.

Perjalanan Umroh reguler ini terasa VIP. Alhamdulillah.

Dulu, pernah membayangkan seperti apa rasanya menginap di hotel yang berada tepat di bawah Makkah Clock Tower. Eh, beberapa tahun berikutnya sama Allah dikasih kesempatan bisa tidur di Hotel bintang 5 dengan harga kamar semalam sekitar 2 juta rupiah. 

Sayangnya, saya nggak banyak mendokumentasikan penampakan dalam hotelnya karena memang benar-benar ingin menikmati perjalanan kali itu. Semoga ada kesempatan kembali ke sana. Amin.


Bisa Shalat Di Raudah Dengan Puas



Di Masjid Nabawi, ada sebuah tempat makbul untuk berdoa yang menjadi favorit para jemaah dari seluruh dunia, yaitu Raudah. Merupakan area yang terdapat di antara rumah dan mimbar dari Nabi Muhammad SAW. Raudah sendiri berarti taman surga, di mana siapa yang berdoa di sana akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Mencapai Raudah tidak semudah yang dibayangkan, apalagi baji jamaah perempuan sebab waktunya dibatasi dan tidak buka selama 24 jam. Tidak seperti untuk jalur lelaki yang lebih leluasa untuk berkunjung ke sana. Hingga bukan hal yang aneh jika tempat ini selalu penuh sesak oleh ribuan orang setiap harinya.

Bagian menyedihkan, beberapa jemaah rela menarik, mendorong atau bahkan menyakiti sesama untuk bisa sholat dan berdoa di bawah pilar hijau. Beberapa kali ke sana, rasanya belum pernah saya tepat sholat di antara pilar hijau tersebut, apalagi kondisi kesehatan dan badan saya yang mungil harus berhadapan dengan wanita-wanita asia yang tingginya menjulang. Saya memilih mengalah, sembari menangis dengan penuh harap bisa berdoa di sana.

Biasanya para wanita bisa berkunjung ke Raudah sehabis Subuh atau menjelang Dhuha. Hari itu kami rombongan dibantu oleh salah seorang Mukimin (orang tinggal di sana) untuk berziarah ke Raudah. Rombongan kami istimewa karena membawa 3 perempuan berusia lanjut (termasuk Mami) yang memiliki masalah kesehatan di kaki sehingga membutuhkan bantuan.

Sebelum masuk Raudah, kami dikumpulkan dalam satu lokasi oleh Askar. Diminta untuk duduk tenang sampai mendapat giliran untuk masuk ke dalam yang perjalanannya lumayan jauh. Sekitar 10-15 menit.

Tiba giliran kami. Saya kebagian menggandeng salah satu jamaah rombongan, sedangkan Mbak Dini, membantu membawakan kursi Mami. Rupanya pemimpin tadi membawa kami lewat jalur khusus, katanya itu jalan pintas bagi orang-orang menggunakan kursi roda atau keadaan khusus. Di depan pintu kami dicegat oleh dua orang Askar, pemimpin rombongan menjelaskan kondisi kami masing-masing. Hanya 3 orang yang boleh masuk, saya dan Mbak Dini ditolak karena terlihat sehat. Mbak pemimpin rombongan tadi menjelaskan kembali bahwa saya dan Mbak bertugas membantu 3 orang lansia ini. Alhamdulilah kami diperbolehkan masuk.

Perjalanan menuju Raudah jadi lebih pendek, kala itu masih belum terlalu ramai sehingga tidak terlalu berdesakan. Satu orang lansia yang bersama kami dicarikan tempat dekat pilar hijau kedua. Sedangkan, sisanya ikut dalam rombongan. Mami dan satu orang lagi tidak bisa mencapai depan akhirnya dikasih barisan kedua. Sedangkan saya dan Mbak Dini berada di barisan paling depan. Saya dan Mbak Dini bisa berdoa dan shalat dengan puas karena mendapatkan penjagaan yang ketat. Rupanya ini jawaban Allah beberapa tahun silam ketika saya pernah menangis di Raudah karena tidak bisa berdoa dengan khusus.

Saya tidak menyesal sepanjang perjalanan harus menjaga rombongan lansia karena rupanya Allah menitipkan rezeki tak terduga melalui mereka. Kemudah-kemudahan ini hadiah yang sungguh tak ternilai melebihi apapun. Di hotel saya dan Mbak masih takjub, sambil bertanya apakah ini mimpi?

Bagi saya rezeki itu bukan melulu berupa materi ada kalanya kejutan-kejutan kecil dari Allah bisa menjadi tak ternilai. Saya mungkin melakukan hal yang sederhana yaitu membantu salah satu nenek yang punya masalah lutut sama seperti Mami, tapi Allah mengganjarnya dengan sesuatu yang di luar nalar.

Yah, begitulah. Jangan bosan berbuat baik dengan sesama karena Allah punya banyak kejutan, seperti pengalaman umroh yang tidak terlupakan.


3 Produk Skincare yang Wajib Dibawa Travelling

3 Produk Skincare yang Wajib Dibawa Travelling

3 produk skincare wajib dibawa ketika travelling


3 Produk Skincare yang Wajib Dibawa Travelling



Bepergian bukan berarti berhenti merawat wajah. Terkadang ketika hendak melakukan perjalanan, seringkali kita hanya fokus sama rencana jalan-jalan dan kerap kali melupakan hal penting yaitu membawa produk skincare.

Memang sih kadang kalau sedang melakukan travelling suka lupa untuk merawat wajah. Boro-boro mau pasang skincare, mandi secara benar saja suka nggak sempat. Beberapa orang malah merasa ribet kalau harus membawa produk perawatan wajah. Katanya menambah beban hidup, apaan sih. Menambah beban koper dink.

Alhasil mulai terasa pulang bepergian, kok kulit tambah menggelap kusam lalu timbul permasalahan yang lain. Bukannya istirahat sehabis melakukan perjalanan, akhirnya sibuk cari klinik kecantikan buat mengatasi permasalahan kulit. Padahal permasalahan ini sebenarnya bisa diatasi kok asal kita tetap fokus merawat wajah selama melakukan perjalanan.

Mungkin sebagian orang masih bingung, termasuk saya. Ketika bepergian harus bawa produk skincare yang mana. Masak iya harus dibawa semua? Pertimbangan itulah yang sering membuat saya bingung saat melakukan perjalanan jauh atau membutuhkan menginap

Padahal ya kalau tetap rajin melakukan perawatan wajah harian, permasalah kulit ini nggak bakalan terjadi.


Nah, berikut ini 3 Produk Wajib yang harus dibawa  travelling.


Cleanser



Rasanya hampir semua orang tahu bahwa manfaat Cleanser itu untuk membersihkan noda kotoran yang menempel di wajah. Sehabis bepergian, tentu saja kulit wajah kita terpapar yang namanya polusi, debu, kotoran dan minyak. Kebayang nggak kalau nggak dibersihkan, pasti rasanya lengket banget. That’s why penting banget bawa cleanser.

Kalau saya sih lebih suka bawa face wash aja karena lebih simpel dan nggak makan tempat. Ditaruh di wadah ukuran kecil, rasanya amat cukup untuk kegiatan sehari-hari ketika berada jauh dari rumah.

Trus bagaimana yang penganut double cleansing?

Bisa aja sih, kamu bisa bawa dua jenis pembersih wajah kesukaanmu tapi pastikan apakah ada ruang untuk kedua produk tersebut. Bisa juga diatasi dengan membeli produk dalam ukuran travel size. Sekarang banyak tuh, jenis skincare kit yang lucu-lucu.


Moisturizer



Jika sedang bepergian, saya memilih step perawatan wajah yang sederhana. Saya lebih menyukai membawa satu jenis moisturizer yang bisa dipakai untuk siang dan malam. Efektif dan tentunya menghemat tempat.

Jika ingin kelembaban ekstra, mungkin kamu bisa membawa beberapa sheet mask kesukaanmu. Lagian masker tissue ini tidak membutuhkan banyak ruang.

Baca juga:

My Japan Bucket List

Pengalaman Pertama Naik Cable Car di Genting Highland 

Gaya Berpakaian Ketika Travelling 

Begini Cara Menemukan Hotel Murah dan Nyaman 



Sun Protection



Terakhir, produk skincare yang tidak boleh terlupakan tentu saja sun protection alias sunscreen. Tidak hanya dioles saat ingin bepergian tapi juga wajib berada di tas supaya bisa re apply. Tahu sendiri dong, kalau lagi travelling sukanya main-main ke tempat indoor di mana sumber matahari melimpah ruah.

Jangan sampai kulit kamu sunburn gara-gara lupa bawa sunblock kemana-mana. Bawa dua jenis sun protection jika memang tasmu masih memiliki banyak ruang atau bawa produk sunscreen yang memang bisa digunakan untuk tubuh dan wajah. Selain itu kenakan topi ketika berada di luar yang terik.

Jadi, travelling itu penting untuk menambah wawasan kita akan keindahan alam yang ada di sekitar kita sekaligus membuat pikiran kita lebih fresh. Supaya nggak ada drama kulit bermasalah sehabis liburan, jangan lupa membawa 3 produk skincare yang wajib dibawa travelling.


Selamat liburan,

 10 Hal Kecil yang Bikin Saya Bahagia

10 Hal Kecil yang Bikin Saya Bahagia



10 Hal kecil yang bikin Bahagia

What Makes you Happy?


Bicara tentang kebahagiaan, kayaknya nggak ada takarannya tiap orang? Berbeda tergantung apa yang pernah dialami dan bagaimana kadar bahagia orang tersebut kala itu. Nggak pasti.

Bahagia versi saya, belum tentu berlaku untuk orang lain juga. Jadi, jangan pernah memaksakan standar bahagia versimu kepada orang lain. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa sebenarnya rasa bahagia itu mudah untuk diciptakan karena letaknya bahagia itu ada di hati.

Sebenarnya saya sudah pernah menulis postingan di blog berbau bahagia sebelumnya, namun nggak ada salahnya deh menuliskannya kembali. Rasa bahagia itu menular, siapa tahu setelah baca postingan saya, kamu juga jadi ikutan bahagia.

Yuk mari berbahagia bersama.


10 Hal Kecil yang Membuat Saya Bahagia



Bisa Tidur Nyenyak Di Malam Hari


Sebagai seseorang yang pernah mengalami insomnia bertahun-tahun lalu, saya paham bagaimana rasa terjaga di malam hari sedangkan orang lain asyik dibuai mimpi. Kadang bisa tidur, hanya saja pikiran ini berjalan kemana-mana. Alhasil bangun tidur, tubuh sudah merasa lelah duluan.

Bisa Kentut yang Keras


Astaga, sebenarnya ini cukup memalukan sih. Nggak tahu kenapa, saya bahagia banget bisa kentut dengan keras setelah seharian melakukan aktivitas, kayak berasa lega gimana gitu. Syaratnya sih kalau mau kentut begini di rumah saja, jangan sampai di tempat umum. Bikin malu!


Baca juga:


Ketika Keponakan Bilang, “Makasih Aunty, Makanannya enak.”


Saya sering memasak untuk orang rumah, kadang memang melelahkan tapi hal yang membuat saya bahagian ketiga keponakan masuk ke kamar, terus memeluk sambil bilang, “Makasih Aunty, Masakannya Enak.” Rasa lelah habis masak itu kayak langsung lumer.


Melihat-lihat Foto Bagus Di Instagram/Pinterest


Satu hal yang bisa mengembalikan mood saya yang berantakan adalah dengan melihat foto-foto bagus di Instagram dan Pinterest. I don’t know why, makes me better even when i’m feeling blue. Kayak semacam penyembuh dan tentu juga pemantik ide ketika nggak tahu mesti mengerjakan apa.

Saya sering meluangkan waktu untuk main-main di Instagram dan Pinterest. Biasanya kalau menemukan foto bagus yang tentunya sesuai dengan selera akan saya simpan. Nanti, saya akan coba menduplikasi ketika ingin memotret.

Memotret


Dari dulu, obat saya ketika sedang merasa bosan, sedih adalah dengan memotret. Benda apa pun, rasanya membuat pikiran saya terasa lebih baik karena pada dasarnya saya memotret untuk menghibur diri kecuali untuk pesanan klien yang memang harus mendapatkan hasil yang sesuai permintaan. Sehabis menekan shutter, kayak ada yang plong.


Memasukkan Barang Belanjaan Di Ecommerce


Entah kapan kebiasaan ini mulai muncul, pastinya hampir tiap malam saya mencari barang-barang yang saya ingin beli di E-Commerce ke dalam keranjang belanjaan. Sampai bertumpuk terus keesokan harinya dihapus, gitu aja terus.

Belanja kagak cuman cuci mata tapi bikin hati senang, maklum pandemik Covid belum berakhir jadi nggak bisa kemana-mana deh.


Melihat Film Lucu


Bahagia itu menular. Nah, biar hormon kebahagiaanmu terus menguar coba deh menonton flim lucu yang bikin kamu terbahak-bahak hingga meneteskan air mata saking nggak bisa nahan ketawa. Dijamin hormon endorfinmu akan berlimpah dan membuat moodmu lebih baik.


Melihat Pria Tampan


Saking seringnya memajang foto-foto aktor korea di Instagram Story, beberapa teman yang mengenal saya selalu bilang bahwa kalau pengin cuci mata coba deh main ke instagram saya.

Well, buat saya lelaki-lelaki tampan itu pengganti coklat yang sama-sama mengeluarkan hormon endorfin ketika melihatnya. Bahagia deh.


Membeli Skincare


Beberapa tahun terakhir ini, mencari-cari skincare yang tepat untuk kulit wajah merupakan salah satu kegiatan yang membuat saya bahagia. Kemasan yang lucu membuat saya ingin membawa mereka pulang terlebih lagi jika hasilnya terasa di kulit. Saking sukanya dengan skincare, saya bahkan sering membaca-baca artikel yang berhubungan dengan kecantkan.


Menikmati Senja


Beberapa tahun lalu, saya punya kebiasaan berburu matahari terbenam. Kebetulan di depan komplek perumahan masih ada area persawahan yang bisa dipakai untuk melihat senja.

Indah.

Menyaksikan kebesaran Allah SWT lalu belajar untuk bersyukur bahwa saya ini hanya seorang manusia kecil di hadapan Allah. Sayangnya, kegiatan ini sudah jarang saya lakukan lagi, namun tetap saja langit merah saya senja itu bikin hangat ketika melihatnya.

Sebenarnya masih banyak sekali hal-hal kecil yang bikin bahagia, hanya saja sebagai manusia seringkali banyak mengeluhnya sehingga lupa tentang rasa bahagia itu sendiri.

10 Kebahagiaan kecil versi kamu seperti apa? Boleh dong cerita.